[Tantangan 16] If I'am Ugly So Are You


"If I'am Ugly So Are You."
Ugly (red : Jelek) adalah kata-kata bullying yang sangat kejam. Dapat dibayangkan dengan hanya satu kata tersebut bisa membuat korbannya merasa dilecehkan dan dapat mempengaruh physicis kejiawannya. Termasuk dapat meruntuhkan kepercayaan diri juga.

Hal ini saya alami sendiri ketika masih SLTP (red : setara dengan SMP saat ini) kelas 1. Sebagai siswa baru masih dalam tahap pengenalan lingkungan sekolah. Dan setelah pembagian kelas dan pembagian duduk yang harus sesuai dengan nomor urut absen waktu itu.

Setelah pembagian kelas dan masa orientasi, pembelajaran pun dimulai. Sebelum itu wali kelas Ibu Martinah masuk ke dalam ruangan kelas 1-3 dengan diikuti oleh seorang anak laki-laki. Anak tersebut berdiri disamping ibu wali kelas tersebut. Setelah dengan segala tetek bengek soal perkenalan si ibu menyuruh anak tersebut duduk di mejaku yang kebetulan disampingku kosong.

Jalannya begitu kemayu bak putri raja dengan sikapnya kaya perempuan. Mimpi apa semalam saya harus duduk dengan dia. Jadwal pelajaran pun sudah didapat, akhirnya dimulai dengan hanya perkenalan guru mata pelajaran yang sesuai mata pelajaran dan sedikit pengenalan materi tersebut.

Waktu demi waktu berlalu akhirnya anak tersebut menampakan sifat aslinya. Dia mulai mengatur-ngatur saya, yup hanya saya seorang yang menjadi korban karena dia melihat saya begitu lemah dan tidak bisa melawan sehingga menjadi sasaran empuk baginya.

Bahkan dia menyematkan kata jelek dibelakang nama saya sehingga setiap dia memanggil harus ada kata jelek dan saya tidak bisa ngapa-ngapin hanya menurut apa perkataan dia. Apabila menolak selalu mengancam dengan nada sedikit marah.

Dia selalu menceritakan kepada saya tentang orangtuanya yang kebetulan seorang TNI (suami dan istri). Dengan cara ini dia selalu menakuti-nakuti bahkan mengancam bisa mengeluarkan saya dari sekolah tersebut. Terus begulir dengan keadaan membuat saya ingin melawan tetapi saya memilih untuk diam saja.

Physicis saya sudah mulai terganggu dengan segala ucapan dia yang menjelekan diriku. Saya tidak berani pula untuk bercerita kepada orangtua. Seiminggu berlalu dan tempat duduk dirowling dan akhirnya terbebas dari dia selama seminggu.

Segala macam dilakukannya terhadap saya. Mulai dari bullying verbal hingga dia benar-benar mengikat kaki saya dengan rantai gembok untuk sepeda kekaki meja. Akhirnya rowling duduk kembali dilakukan dan akhirnya kembali ke tempat semula.

Sedangkan wali kelas dan para guru seakan-akan tak mau peduli akan masalah yang saya hadapi ini. Akhirnya duduk saya dipindahkan kedepan. Namun, salah satu guru tak mau peduli dengan keadaan saya dan menyuruh kembali ketempat semula.

Saya pun menolak dan guru tersebut marah kepada saya. Bel istirahat pun berbunyi kencang sekali, saya sudah tidak bisa berpikir lagi. Dannn akhirnya saya bolos dipertengahan pelajaran. Saya tinggalin sepeda dan tas saya disekolah. Dan pulang dengan memikirkan apa jawaban saya apabila orangtua bertanya.

Dan akhirnya pulang dengan berjalan kaki sejauh 6 km jauhnya. Dapat dibayangkan dengan keadaan haus dan lapar. Dengan sidikt takut akhirnya menceritakan segalanya apa yang terjadi namun, orangtua sedikit memarahiku. Dengan agak marah ibu menyuruhku untuk mengambil tas dan sepeda yang terparkir di ruang sepeda.

Terpaksa ibu ikut dengan saya. Sesampainya disana saya dan ibu dipertemukan dengan bap-bapak di bidang kesiswaan. Dari situlah orangtua tau mengenai keadaan saya disekolah.  Selama 2 catur wulan tertutup rapat dan akhirnya terbongkar juga rahasia itu.

Puncaknya pada saat pelajaran kesenian dimana kita keluar kelas untuk melukis sekitar sekolah. Dia mulai berulah lagi dengan memanggilku si jelek dari gua hantu. Dan sudah enggak bisa ditahan lagi ku kejar dia dan mendorongnya hampir terjerembap di bak sampah.

Disaat dia berbalik tanpa mikir panjang lagi saya lemparin sampah berbau busuk pas dimukanya. Sebagian sampah tersebut masuk kemulutnya dan tertelan olehnya dan bahkan sebagian lagi berceceran dikertas gambarnya. Dia terdiam sejenak dan saya memberanikan diri untuk bilang "kalau saya jelek, begitu pula kamu lebih jelek dari saya."

Saya berlari menghidarinya dan dia mengejar ingin membalas apa yang saya perbuat terhadapnya. Terus berlari dan hampir mendekati ruangan kelas dia menepuk pundak saya dengan keras. Dengan belepotan sampah dipundak saya bel untuk pelajaran kedua tersebut berbunyi kencang.

Kami berdua dipanggil keruang guru, disana sudah ada wali kelas kami berdiri dengan mengacak pinggang. Terus kami dipersilakan duduk, saya hanya tertunduk lesu, dia bertubi-tubi menyalahkan saya, dan kembali saya berdiam. Setelah itu saya terkejut dengan perkataan ibu wali murid tersebut. 

Ternyata ibu tersebut membela saya, menyatakan bahwa itu bukan salah saya. Dengan sedikit keberanian akhirnya saya menatap wajah ibu tersebut, dengan senyum tersirat dibibirnya sepertinya ingin mengatakan bahwa kamu pasti menang. Ah..., jadi menenangkan hati saya.

Beberapa bulan sudah lewat dan kini telah masuk ke ajaran baru. Dia dengan bangganya kepada saya kalau ayah dan ibunya akan datang kesekolah. Dengan santainya dia mengajak saya untuk berlalu lalang didepan ruang guru. Disana telah duduk sepasang suami istri sedang berbincang-bincang dengan ibu wali kelas.

Sekali dengan bangganya dia menujuki orangtuanya yang berseragam TNI didalam. Dengan cueknya saya kembali ke kelas dan dia ikut menguntili saya. Pasti ada sesuatu nih hingga orangtuanya dipanggil. Dia tidak tau apa yang terjadi dialam ruangan tersebut.

Keesokan hari bu Martinah memberi tahu saya bahwa dia sudah tidak bersekolah disini lagi jadi kamu bisa mengikuti pelajaran dengan tenang. Ada sesuatu yang membuatku benar-benar senang dan sedih sekaligus. Tak, bisa saya pungkiri lagi bahwa ada sesuatu yang selalu membuat saya ingin bebas.

Ingat, saya adalah korban bully dari teman sekelas sendiri. Tapi saya tetap menjadi diri saya sendiri dan tidak mau untuk membully orang lain. Terkadang apabila ada yang selalu membully saya hadapi dengan sebuah senyuman termanis saya untuk sang pembully.

P.S : Kisah ini bedasarkan kisahnya dari sang penulis sendiri. Nama-nama yang berada didalam tulisan ini adalah bukan nama sebenarnya. 

Comments

  1. Saat dibully kita memang harus berani untuk melawan. Sebab jika tidak, kita akan terus dibully. Selanjutnya jadikan bully untuk melecutkan semangat kita supaya berprestasi.. .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keberanian adalah satu kunci untuk melawan bullying. Ini harus ditanamkan kepada anak-anak kita agar tidak terjadi yang diinginkan.

      Delete
  2. Salam kenal balik ya mas Hendra, saya dengan Lidia. Cerita perundungan ini memang selalu ada hampir di semua usia kadang ya, apalagi masa kanak-kanak, banyak banget versinya. Terima kasih yang sudah kuat dan bangkit serta tidak jatuh dan trauma akibat perundungan yang pernah dialami. Karena tak jarang yang mengalami perundungan jadi trauma dan sulit untuk keluar dari masa-masa itu. Semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga mbak Lidia, Sepertinya tak akan pernah berhenti terus akan berulang. Sepertinya tak akan bisa berhenti selalu ada saja perunndungan.

      Delete
  3. Wah, sama mas. Saya juga pernah dibully di kelas 1 SMP dan sampe sekarang masih terasa sakit kalau ingat. Tapi saya tidak mau balas membully mereka. Biar Tuhan saja yang membalasnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih mbak dyah, biarlah Allah yang membalasnya. Selama ini diam karena takut akan dikeluarkan dari sekolah. Tapi Keberanian mendorongku untuk bertindak.

      Delete
    2. Aku dulu karena ada alasan tertentu tidak melawan dan membiarkan mereka.

      Delete
    3. Setiap orang pastinya berbeda-beda untuk masalah yang dihadapinya. Begitu juga dengan saya mbak menghadapi kasus ini butuh keberanian juga.

      Delete
  4. Duuh... Semoga dia di sekolah yang baru dan kini kondisinya sudah berubah ya, terutama akhlaknya menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga saja dapat berubah. Hingga saat ini, detik ini saya belum pernah bertemu lagi.

      Delete
  5. Saya benci banget kalo ada praktek bullying di manapun apalagi itu di sekolah.
    Kadang guru gak tau apa yang terjadi sama muridnya, atau mereka tau tapi udah nggak bisa berbuat apa2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih mbak, tapi sekarang malah ada yang dibela sama gurunya. Saya sendiri tidak tau mengapa sampai harus dibela segala.

      Delete
  6. Saya juga pernah merasakan perundungan waktu SD, tidak banyak yang saya ingat ketika SD tapi ini adalah salah satu yang tiba-tiba terbersit di pikiran ketika membaca cerita ini. Korban bully memang harus berani mas, tapi dukungan orang sekitar juga diperlukan agar orang yang di-bully tidak merasa sendirian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya rifqi semoga ini menjadi pembelajaran bagi semuanya yang memiliki anak-anak yang masih sekolah agar berani melawan bullying dan tidak menjadi korban.

      Delete
  7. keburukan itu menular juga. Dikhawatirkan efeknya tidak sedikit tetapi membentuk mata rantai panjang. Biasanya, yang dibully akan membully orang yang lebih lemah dari dia. Maka, sebisa mungkin dihindari. Btw, apa ini kisah Kokoh? hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini kisah saya sendiri pak Supadilah, saya memang sedikit menyamarkan si pembully agar tidak terlalu mengingatnya.

      Delete
  8. Ya Allah aku bacanya kaya novel gitu ya, ternyata kisah nyata. Tak terbayangkan saat melaluinya pasti begitu berat, kini bisa menceritakannya bahkan menuliskannya kpd kami, subhanallah. Meski pasti menulisnya ada emosi, alhamdulillahnya anaknya pindah ya. Tapi tahu ga Koh, yg kubaca justru anak itu yg bermasalah mengapa Ia bisa melakukan tindakan bully, pasti ia tertekan di rumahnya dgn kedua orang tuanya yg TNI tadi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat-sangat berat sekali mbak, terkadang itu membuat saya mogok sekolah dan harus dibujuk sama guru.

      Delete
  9. Ya Allah rasanya ada kelegaan saat tahu org menyebalkan itu pindah. Dia pasti mendapat kepuasan saat bisa melakukan bullying itu sehingga selalu berulang-ulang melakukannya.

    Hebatnya kakak mengambil hikmah dari kejadian ini, smg semakin byk org yang tidak melakukan bullying ke org lain:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Plong banget saat tau dia telah pindah, akhirnya senang kembali ke sekolah tanpa masalah sedikitpun.

      Delete
  10. Luar biasa, salut dengan keberaniannya. Saya masih SD dulu di-bully. saya cuma diam saja. saya tidak suka, tapi saya tidak terlalu merasa terganggu. Selama dia tidak bermain fisik, hanya omongan mulut saja, saya anggap orang gila.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah Selama enggak menggangu didiamkan saja tak apa-apa.

      Delete
  11. Kok saya ikut kesal ya baca kisah ini? Sebagai guru, setiap mendengar atau mengetahui ada siswa mengalami perundungan maka sayalah orang pertama yang paling marah, terus ceramahi si pelaku kalau tidak berubah, panggil orang tuanya, tindakan terakhir, dikeluarkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah semuanya sudah berlalu, kini akhirnya saya bisa menceritakannya tanpa beban sama sekali. Kini malah saya ingin bertemu denganya.

      Delete
  12. Saya pernah baca, kalo ada seseorang yang suka membuat masalah dg orang lain, sebenarnya dia yang bermasalah entah dg dirinya sendiri atau lingkungannya, keluarga misalnya. Si pembully ini mungkin juga begitu. Dia seperti iri dan gak rela lihat teman sekolahnya bahagia karena hidupnya sendiri gak bahagia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin mbak, ini kasus physicolgy yang sangat kompleks sehingga perlu penjelasannya dari ahli.

      Delete
  13. Kayaknya kalau kami di priok... nama2 jelek disematkan ke kami (saya dan teman2) seperti sudah santapan sehari2... jadi bahan jokes awalnya tapi kalau sudah serius tersinggung biasanya ga digunakan utk nama panggilan...bahkan saya pernah di panggil hanoman...ah saya mah nyantai ... karena dia juga berharap dipanggil juga dengan sebutan sejenis... ada kebanggaan diorang2 tertentu memiliki nama lain yang terkesan sangar... pengalaman saya sendiri selama masih berupa panggilan saja dan tidak berupa kontak fisik, pemalakan dan sejenisnya masih diabaikan... dan terhitung belum bullying pada saat itu ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bang, terkadang masih bisa menerimanya tapi ada pula yang tidak bisa menerimanya dan bisa berujung dengan perkelahian

      Delete
  14. saya selalu sedih ketika mendengar cerita teman atau kenalan yang mengalami perundungan, sekaligus kesel sama pelakunya.. orang-orang di lingkungan sekitar seharusnya lebih sadar jika ada perundungan, supaya tidak ada lagi orang yamg mengalaminya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah, semoga tidak ada lagi perundungan dimuka bumi ini mbak.

      Delete
  15. kenapa ya selalu aja ada orang yang hobi banget ngejekin orang lain. Gemes banget. Apalagi gak hanya verbal tapi juga fisik. Bullying emang dari dulu sampai sekarang gak habis-habis ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya karena permasalahan physicolgy mereka dalam masalah yang orangtua tidak pernah tau akan masalah anaknya.

      Delete
  16. Tanpa sadar manusia emang gampang banget ngebuli orang lain ya. Saking nggak sadar nya malah udah kebiasaan sejak kecil. Dan parahnya itu menciptakan budaya bullying yang kemudian dianggap sesuatu yang biasa dan wajar hiks.. butuh orang2 yang mau membuka mata & hati utk menyadarkan masyarakat. Meski gak mudah sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak bety dan tanpa merasa bersalah sama sekali mereka anggap itu hanya sebuah candaan saja.

      Delete
  17. salut saya, kalo aku dibully langsung aku bully balik yang membully aku. karena kalo tidak aku lawan pasti bisa jadi bahan bully tiap hari. dengan begku jarang sekali ang membully aku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih, kuncinya "BERANI," agar tidak menjadi bulan-bulanan para bullying tersebut.

      Delete
  18. Belakangan setelah anak-anak dewasa, baru mereka cerita bahwa mereka tidak suka masa-masa SD. Sepertinya mereka mengalami bully-an tetapi tidak cerita ke kami, ortunya. Menurut cerita mereka sih, verbal. Aku antara sedih dan gimana gitu...Aku cuma bisa doa, mudah-mudahan baik-baik aja sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, ada kalanya kita ajarkan terbuka kepada anak apa bila ada masalah berani untuk berbicara kepada orangtuanya.

      Delete
  19. Alhamdulillah, Koh Hendra bisa melewatinya dengan baik. Entah kalau aku yang ada di posisi Kokoh, bisa-bisa antara aku ngedrop banget... atau justru saat ini aku membalas dendam ke yang membully aku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Ari, Biarlah Allah SWT yang membalasnya di akhirat kelak.

      Delete
  20. Kalau ada yang membully saya juga senyumin aja, padahal dalam hati pengen nangis dan merutuki diri sendiri karena nggak berani melawan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Nanik, Tapi kita perlu tegas juga biar dia tau kalau kita enggak lemah.

      Delete
  21. Memang biasanya yang suka di bully yang keliatan anaknya lemah, dan tidak melawan. Syukurlah tidak dendam terhadap bullyannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orangtua saya mengajarkan untuk tidak mendengar apa kata para bullying. Anggap saja angin lalu.

      Delete
  22. Ya Allah tega banget yang bully, untuk zaman sekolah dulu, aku bukan salah satu anak yang demen bully. walaupun aku juga gak pernah kena bully, semoga zaman sekarang kisah bully begini bisa dikurangi kalo bisa enggak ada sama sekali, kasian banget sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih mbak, tapi itu sudah takdir dari Allah yang dijalani. Semoga ada sekolah yang tidak ada bullying lagi.

      Delete
  23. Memang sampai sekarang pun permasalahan bullying ini masih meresahkan, terkadang para perlaku bully hanya menganggapnya sebagai candaan saja. Padahal kita tidak tahu bagaimana perasaan mereka yang di becandain, bagi kita becanda mungkin bagi mereka itu hinaan yang menyiksa. so! stop bullying sekarang juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sudah mempengaruhi physicologi korbannya, sampai tidak mau masuk sekolah. Saya aja dulu enggak mau masuk sekolah, sampai guru memaksa saya untuk hadir dikelas.

      Delete
  24. Im with u kokoh.. Kadang kita emg perlu sesekali nge gas untuk membungkam mulut2 yg ga punya sopan santun dan hobinya jelek2in org secara lgsg.. Reseeekk emang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak, Yup, ngegas biar dia diam. Tapi terkadang saya hanya membalasnya dengan sebuah senyuman dan dia langsung terdiam tanpa kata=kata

      Delete
  25. Biasanya rata-rata di sekolah aksi bullying ini sering terjadi, mungkin saja hanya sekedar becandaan padahal efeknya bisa mempengaruhi mental yang dibully

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok bisa yah, disetiap sekolah ada yang namanya bullying tersebut. Berarti banyak korbannya donk.

      Delete
  26. Salut! Menyikapi bullying memang tak mudah apalagi seusia itu ya. Anakku juga korban bullying saat awal SMP. Saya dan suami nguatin dia, sementara saya selalu berkonsultasi dengan pihak sekolah. Syukurnya pas roling kelas beda kelas dengan pelakunya..tapi sampai kini dari kelasnya kadang masih gangguin juga. Duh

    Terima kasih sudah membagikan cerita ini, koh...banyak yang bisa ambil hikmahnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak Dian, iya mbak tidak mudah sekali. Terkadang membuat segalanya menjadi sebuah pembelajaran bagi kita semuanya mbak.

      Delete
  27. Saya selalu mengajakan ke anak untuk tidak memikirkan perkataan jelek teman padanya, selama itu tidak benar.
    Saya katakan, jika anak yang mengatai anak lain sebenarnya mengatai dirinya sendiri, jadi anak harus kasihan padanya dan membaikinya. Siapa tahu memang butuh bantuan.

    Si sulung dari pembuli menjadi penjaga sekaligus sahabat terbaik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, keterbukaan inilah yang sangat diperlukan agar tidak lagi terjadi bullying. Keterbukaan antara anak dan orangtua sangat diperlukan banget

      Delete
  28. Barangkali teman koh Hendra itu dikeluarkan karena sudah banyak korbannya selain Kokoh ya? Ngeri juga ya, mengandalkan jabatan Orangtua untuk menakut-nakuti dan membulat teman

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak juga sih mbak, baru saya saja korban waktu itu. Dia dikeluarkan karena takut reputasi sekolah menjadi jelek.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

[Tantangan 11] Menjadi Wirausaha Di usia Muda? Mengapa Tidak

[Tantangan 18] 4 Tips Ketika Ingin Ganti Ponsel

[Tantangan 2] Susahnya Saling Menfollow di Blogspot